Tentang klien
Sate Babi Mamaku membakar sate babi Bali di Surabaya. Keterangan di bawah namanya menyebut persis itu dan tidak lebih — sate babi Bali di Surabaya — karena di kategori ini, hidangan dan kotanya sudah menjadi seluruh penawarannya. Yang ada di belakang satu baris itu tidak sesederhana kalimatnya: gerai di food court Pasar Atom, di G-Walk Citraland, dan gerai Express di Rungkut, titipan di Chicco dan Bu Kristin, toko Tokopedia, aplikasi pesan-antar, hampers saat Imlek dan Natal, serta stan yang berkeliling ke berbagai acara.
Di situlah persoalan yang sebenarnya. Pembeli yang ingin makan sate malam ini tidak perlu dibujuk — ia perlu tahu gerai mana yang paling dekat, apakah masih buka, dan nomor mana yang harus dihubungi. Pembeli yang memesan empat puluh kotak untuk kantor atau resepsi memerlukan nomor yang sama sekali berbeda. Salah mengarahkan, dan pesanan yang sudah di tangan pun dingin di kotak masuk yang tak sempat terbaca.
Yang kami kerjakan
Maka profilnya kami perlakukan sebagai papan penunjuk lebih dulu, baru sebagai linimasa. Sorotan cerita menjadi papan namanya: satu untuk tiap gerai — Pasar Atom, G-Walk Citraland — ditambah jam operasional, hampers, musim hampers Imlek, dan stan acara. Pengunjung baru menemukan gerai dan jam bukanya tanpa menggulir unggahan setahun penuh. Di bawahnya, tautannya memisahkan jalur pemesanan mengikuti cara usahanya memang terbagi: satu nomor WhatsApp untuk pesanan harian Surabaya dengan gratis ongkir, satu lagi untuk hampers, acara, reseller, partai besar, dan luar kota, toko Tokopedia di sebelahnya, dan jalur pengaduan yang tidak disembunyikan.
Lalu fotografinya, sebab sate dijual oleh bara dan asapnya. Foto diam memipihkan keduanya, jadi pemanggangannya dikerjakan lewat video — tusukan di atas bara, lemak yang menyambar, saat dibalik — sementara fotonya membawa sajian sebagaimana ia benar-benar disodorkan: lima tusuk, nasi putih, kecap, baikut. Klaim di feed-nya ditulis dengan kata-kata yang dipakai pembelinya sendiri, juicy, pedas, segar, manis, gurih, dan gambarnya dipotret untuk membuktikannya, bukan sekadar menemaninya.
Kalender unggahannya disusun dari apa yang memang dijual dapurnya, bukan dari tema konten: paket berdua yang membuat makan bersama lebih hemat daripada makan sendiri, layanan bakar dengan daging dan bumbu bawa sendiri, katering untuk acara, pengiriman ke luar kota, dan hampers ketika musimnya tiba. Tiap unggahan berakhir di tempat yang dibutuhkan usahanya — sebuah nomor WhatsApp, sebuah gerai, sebuah jam. Polanya dijalankan sendiri oleh timnya, dan memang itu tujuannya sejak awal.