Sebagian besar brand Indonesia dengan audiens internasional akhirnya melakukan salah satu dari dua hal, dan keduanya lebih buruk dari yang terlihat. Mereka membuka akun kedua yang diam-diam mati setelah sebulan, atau menumpuk dua bahasa dalam satu caption sehingga panjangnya dua kali lipat dan tak seorang pun menyelesaikannya.
Tentukan bahasa mana yang memimpin
Bukan mana yang lebih penting — melainkan unggahan ini untuk siapa. Unggahan lowongan kerja ditujukan untuk orang di sini. Unggahan kapabilitas untuk klien regional tidak. Begitu sebuah unggahan punya audiens utama, bahasa kedua menjadi kalimat pendukung, bukan cermin, dan boleh lebih pendek.
Terjemahkan maksudnya, bukan kalimatnya
Terjemahan kata per kata adalah sumber kekakuan caption dwibahasa. Versi Inggris seharusnya terdengar seperti ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang yang memaksudkannya — yang kadang berarti lelucon berbeda, pembuka berbeda, atau tiga kalimat alih-alih lima.
Biarkan gambar mengambil bagiannya
Unggahan dwibahasa yang paling efisien adalah yang gambarnya sudah menjelaskan, sehingga caption hanya perlu menambahkan nada. Itu bukan trik kebahasaan, melainkan konten yang memang lebih baik — kebetulan ia menyelesaikan masalahnya dua kali sekaligus.